Senin, 09 Oktober 2017

Sakura Chapter 4

Terima Kasih sudah datang...



Tl : Zimsakuzai
Source : Onichannyamete


(~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~

<= | INDEX | =>

~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~)


4 –  Ini Pastinya Adalah Persimpangan Takdir.

ZURU-!
“Ah-, uwah-, KYAAAAAAAAAAAAAaAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…”




*Beberapa saat yang lalu~~~


“Berdiriiiii. Membungkuk.”

“Sakuraa, Miharuu. Setelah pulang kalian mau nglakuin apa~?”

Ketika sekolah berakhir, Tomoko memanggil kami.

“Hari ini, setelah habis dari dojo, aku rencananya mau belanja.”

Aku menyahut selagi menunjukkan tas berisikan dougi-ku, dan tas berisikan pedang kayuku.

“Begituuu, kalau kamu, Miharu?”

“Mn, mungkin aku akan ke perpus sebentar. Ujian’kan tinggal sebentar lagi.”

Miharu menyahut selagi bersiap pergi.

“Geh- .... Sudah waktunya kah?”

“Kau tahu kurang dari dua minggu lagi tersisa untuk ujian akhir semester, kan?

Aku membalas ke Tomoko yang terkejut.

“Tomoko, gimana kalau kau juga belajar dan tak panik ketika harinya sudah dekat?”

Sekarang sudah dekat dengan akhir juni.

Ujian harusnya minggu kedua di bulan juli.

“Nnn~… Miharuu~”

Tomoko memberikan tatapan memelas meminta bantuan pada Miharu.

“Hal yang sama selalu terjadi setiap waktu. Aku kan mengajarimu, jadi kali ini belajarlah dengan serius.”

Terlepas dari dia langsung menjadi murung karna diserbu tanpa ampun, Tomoko mengumpulkan bahan belajar dari mejanya.

Baguslah bahwa dia patuh’kan? Bukan bahwa ia akan tinggal disini. Melihat kesekeliling kelas, semuanya sudah pada pergi. Semuanya pada gesit, huh.

“Aku paham, kalian berdua akan ke perpus. Sudah ya, aku akan pergi ke dojo. Sampai jumpa besok.”

Mengatakannya, aku menuju ke pintu.

“”Cyaa~””

Aku bisa mendengar teriakan keduanya dari belakangku.

Mengira bahwa ini akan menjadi persimpangan takdir...

Ketika aku turun setengah jalan, angin berhembus dari jendela yang terbuka.

Terlepas dari iklim hujan, anginnya nyaman dan tidak lembab.

Aku kira hari ini sering disebut “Satsukibare(fine weather in may/cuaca cerah di bulan mei)” bukan.

BASABASABASA-

Suara sesuatu yang jatuh bergema dari tangga didepanku.

Ketika aku pergi ke tangga untuk mengeceknya, didepan mataku ada siswi yang dibingungkan akan sesuatu.

Melihat lebih dekat, nampatnya dia sedang membawa kertas printout dan angin sebelumnya menyebarkannya sebagian.

Ketika ia menggapaikan tangannya untuk mengambilnya, sisa kertas print jatuh seperti runtuh.

Inikah dojikko? Inikah moe?

Mungkin menarik bila aku hanya berdiri disini dan tetap menonton, namun aku juga punya rencana untuk segera ke dojo.

Susah mengabaikan dan melewatinya, dan aku perlu menggunakan tangganya.

Jadi ini tak bisa dihindari.

“Aku kan bantu.”

Tepat ketika aku mengatakan padanya dan ingin mengambil kertas printout.

“Eh-? Eh-? Kya-”

BASABASABASA-


Karna dia terkejut, keruntuhan lain terlahir.

Kalau begini ndak bakal ada akhirnya.

“Tolong tahan kertas printout-nya jadi kita takkan menghabiskan waktu lebih banyak.”

Mengatakannya dan membuatnya terkejut lagi, aku meletakkan bawaanku dan mulai mengambili kertas printout

“Apakah sudah semuanya?”

Selagi menata kertas printout, aku bertanya pada siswi tersebut untuk mengkonfirmasi.

“Ah-, umm ... mungkin, ya, harusnya sudah, benar aku , kira ... “

“Tolong yakinlah. Jika sudah, tolong bergegas dan peganglah erat-erat agar kamu tak menjatuhkannya lagi.”

Setelah mengatakannya,

“Y-, Ya-, Ini sudah! Um, Makasih banyak!”

Gadis itu agak panik dan menunduk, hampir membuatnya menjatuhkan itu lagi.

Aku bingung menahannya.

“Tak perlu terima kasih, jadi cepatlah pergi dan peganglah yang benar.”

Ketika aku mengatakannya, siswi itu menuruni tangga dalam kebingungan.

“Jujur .... Dia tak cocok dengan tugas ini .... “

Aku menghela nafas sekali selagi mengecek waktu.

“Ah- ... Sudah setelat ini? Aku bakal diceramahi lagi, ‘kan?”

Aku mengeluarkan helaan nafas lagi, selagi menuju ke tangga dan mengumpulkan bawaanku.

“Lalu sekarang, haruskah aku bergegas?”

Membawa bawaanku, kuputuskan untuk bergegas.
.
.
.
.           *past tense
Pada waktu itu, bila aku tak terburu-buru dan menenangkan diri ... Sekarang, tiap kali aku mengingat masa itu, Aku takkan luput karna penasaran ...

Ketika aku menuruni beberapa tangga untuk bergegas pulang, angin sepoi-sepoi lain melewati udara.

HYUUUUU… PASA…

Nampaknya selembar kertas printout runtuhan sebelumnya ada yang  ketinggalan.

Aku telah yakin aku telah mengambil semuanya...

Dan lalu, Bisakah ini disebut ‘kebetulan’ bahwa kertas print out ada tepat dimana aku akan berpijak?

Dengan lincah aku berpijak pada kertas printout dengan kekuatan besar dan membuat kakiku tergelincir.

Normalnya aku akan mendapatkan kembali keseimbanganku dengan sesuatu selevel ini, dan sialnya kedua tanganku penuh membawa pedang kayuku, tas dougi, tas sekolah dan kotak bekal.

Bahkan begitu, aku mencoba untuk mendapatkan keseimbanganku.

Aku langsung memegang sandaran tangan.

Memikirkannya sekarang, itu mungkin ide buruk.

Bila mana aku dengan patuh jatuh pada pantatku, harusnya lebih aman.

Dari semuanya, dengan tangan yang mencengkram pada sandaran sebagai poros, aku berputar setengah lingkaran; dengan kata lain, sisi tubuhku yang sebelumnya menatap ke bawah tangga, sekarang menatap puncak tangga.

“Eh-, aii-, uwah-”

Kehilangan keseimbanganku, aku kalah pada gravitasi dan gaya tolak, membuatku jatuh ke bawah tangga.

“Uwah-, sial-”

Terlepas dari jatuh, aku menyadari ketinggian tangga, dan menyiapkan diri untuk ukemi.

Namun, untuk suatu alasan, situasinya tak seperti yang aku duga. Benar. Untuk suatu alasan....
..*
..*
..*
..*
..*

Apa yang muncul dihadapanku pada tempat pendaratan tangga, bukanlah keramik, namun sesuatu seperti lubang hitam.

..*
..*
..*
..*
..*

Benar. Seperti yang kau bayangkan.

ZURU-!

“Ai-, uwah-, KYAAAAAAAAAAAAAaAaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…”

..*
..*
..*

Tubuhku jatuh menuju ke tengah-tengah lubang hitam.

Oniichan note :
dojikko(ドジっ娘) = clumsy girl (especially of fictional characters whose clumsiness is a key aspect of their characterisation)
moe(萌え)= cuteness (term used in otaku culture)
ukemi(受け身)= ‘receiving body’ in Japanese martial arts; primarily refers to rolling in a safe manner that redirects ‘fall damage’ (how it actually works is less game-like)



(~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~

<= | INDEX | =>

~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~)