Sabtu, 07 Oktober 2017

Arge Chapter 44

Terima Kasih sudah datang...


Tl : Zimsakuzai
Source : Estelion Secret Imouto / Imouto Site


++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
<< | Index | >>
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||


44 - Perasaan Tuan Muda

Ketika kesadaranku mulai memudar, aku bermimpi. Mimpi tersebut adalah ketika kehidupanku sebelumnya. Aku akan mengalami apa yang telah terjadi lagi, dalam rangka mimpi.

Kediaman dimana aku dilahirkan selalu menghasilkan orang-orang sempurna. Olahraga, sains, farmasi, politik, ekonomi, pendidikan, arkeologi... Bagaimanapun, sebuah kediaman yang menghasilkan figur-figur kelas atas. Itulah Kediaman Kuon.

Keluarga Kuon menggerakkan dunia. Pusat dari dunia. Inilah dunia yang kutinggali. Dan Kuon adalah kediaman yang tak menerima apapun selain “sempurna”

Disini hanya ada dua hal yaitu “Sempurna” atau “tak berguna”.

Hanya merekalah yang ‘sempurna’ yang akan diakui sebagai manusia; sisanya tidak.

Dan aku anggota Keluarga Kuon, manusia yang tak pernah dipanggil ‘sempurna’.

Apakah kau ‘sempurna’ atau ‘tak berguna’, keluarga akan masih mengijinkan kau agar hidup dengan normal ketika masih kecil.

Itu bukan karna aku buruk pada satu bidang, sebetulnya aku cukup cakap, namun tetap saja, aku tak ‘sempurna’ pada satu hal. Aku seperti itu. Bila ada yang unggul, adalah tubuhku adalah darah murni Keluarga Kuon dari perkawinan sekeluarga dan memiliki tubuh lemah. (Kuzai : Maksudnya dia itu jack of all trades(80/100) bukan Speciality(120/100) )

Gerakkan tubuh, duduk dan belajar. Tak ada kelebihan dan kekurangan di suatu hal.

Ini masih terlalu awal bagi orang tuaku tuk menyerah pada anak sepertiku. Pada hari terakhir mereka berkunjung. Aku mengingat ketika kehidupanku berakhir juga. Disana ada banyak ’pengurus’ mengunjungi ruanganku paa hari itu. Bukan hanya yang mengurus kediaman namun juga orang yang melindungi orang tuaku, datang ke ruanganku. Disana juga ada tetua yang merupakan kepala ‘pengurus’ yang membawa banyak ‘pengurus’. Namanya adalah Haregi.

Haregi-san selalu memakai seragam selagi pengurus lain memakai kimono. Pada hari ini seperti biasa, dia berbicara padaku.

“Tuan muda, bisakah anda kemari?”

“Bolehkah aku berganti pakaian? Seperti yang kau lihat, aku masih mengantuk, dan aku masih memakai baju tidur.”

“Tidak, Kemarilah tanpa memikirkan hal tersebut.”

“Baiklah, aku mengerti.”

Selagi aku merasa ketidakcakapan di atmosfir kamarku, aku melonjak dari kasur. Ini sedikit aneh ketika semuanya menatap aku dengan begitu was-was, jadi aku sedikit tersenyum. Aku paham alasan mengapa mereka kemari. Jadi bahkan jika aku tak terlihat seperti itu, aku takkan kabur.

Aku mengikuti mereka, berkata “Aku tak apa,” pada para pengikut yang memiliki wajah heran. Sekeliling dilindungi penjaga tangguh, atau sebenarnya malah di blokir, lalu mereka membawaku ke ruangan yang tak pernah kutinggali. Kayaknya aku diiringi mereka dari pada mengikuti mereka.

Aku tahu tempat ini.

Ini karna ini adalah tempat yang siapapun bisa masuki, siapapun yang pernah dianggap sebagai ‘manusia’. Ini adalah ‘tempat pembuangan sampah’. Ketika anak Keluarga Kuon mencapai umur tertentu dan masih ‘tak berguna’, mereka akan disekap disini selamanya.

... ini normal.

Dibawah mansion, ada ruangan yang terpisahkan oleh jeruji besi adalah ruangan yang tak terduga sangat nyaman. Karna aku tak pernah melihatnya sebelumnya, aku mengira lingkungannya bakal buruk, namun ruangan itu tak biasa dari pada yang kubayangkan. tersedia kursi, meja, dan kasur. Ada barang seperti alat masak di dapur sebelah belakang. Lantainya berkeramik, dan dindingnya dicat putih.

Mungkin ruangan ini lebih nyaman dibandingkan dari pada ruanganku. Itulah penilaian yang kuberikan ketika aku melihat pemandangan dibalik jeruji besi pada waktu itu.

“Apakah ada kamar mandi dan toilet?”

“Tentu saja.”

Haregi mengeluarkan cincin kunci dari saku dadanya dan membuka pintu jeruji besi. Tak sama dengan pemandangan biasa yang tersaji, adala suara keras logam berkarat. Ketika aku mengerutkan dahi karna suara yang mengganggu, Haregi-san membuka pintu dan memberikanku kalimat dorongan.

“Tolong, masuklah tuan muda.”

Ukuran pintu cukup untuk kulewati tanpa harus menundukkan kepalaku. Aku masuk seperti yang dianjurkan.

“Jika anda ingin sesuatu, tolong beritahu kami.”

“Ya, aku paham.”

“ .... Tuan muda, apakah kau tak penasaran?”

“Tentang apa?”

“Tentang perlakuan yang kau terima. Sekarang anda telah ‘mati’, mengapa anda masih tetap tenang?”

Sampai aku datang kemari, Haregi-san, yang melakukan pekerjaannya dengan wajah tanpa ekspresi seperti biasanya, telah bimbang. Pertanyaan itu tak berisikan kebencian atau kemarahan dari yang ditunjukkan wajah Haregi-san. Pada sisi lain, jawabanku sangatlah mudah. Hanya satu kalimat.

“Karna itulah Keluarga Kuon.”

“..... ..... begitukah?”

“Ya, tiada orang yang ragu membuang benda yang tak bisa gunakan bukan?”

“Orang tuamu tidak mendampingmu atau mengatakan apapun, hanya ‘membunuh’mu!? Dan kau menerimanya tanpa ragu, anak seperti apakah kamu!? Sampai sekarang, tak ada anak seperti itu di Keluarga Kuon! Jadi saya ... begaimana bisa mereka  ....!”

“Kau membawa banyak penjaga jadi aku tak bisa lari bukan?”

Semuanya telah kupahami. Aku ingin tahu apa jadinya pada orang yang tak bisa melakukan apapun seperti aku, apakah reaksi yang diberikan orang yang dibawa kemari sebelumnya. Semua orang yang berasal dari Keluarga Kuon yang tak memberikan segalanya agar mereka tak dibuang.

Karna aku tahu segalanya, aku tak terkejut, marah, ataupun sedih. Aku tahu bertahan hanyalah memberikan kegagalan. Aku juga tahu untuk tak menutupnya. Karna aku menyadarinya, “Aku tak bisa menjadi bagian dari Keluarga Kuon.”. Itulah mengapa betapa luar biasanya Haregi-san memiliki ekspresi ragu.

Sampai sekarang, anak lain memberikan ketahanan yang tak berarti. Dan masih saja, untuk yang membawa kami ‘Tunas Cacat” disini merasa heran.

“Ini semua tentang tabah, bukankah aku hanya harus menerimanya?” 

“… …!”

Pada waktu itu, aku masih mengingat garis pandangan yang diarahkan padaku jelas berubah. Karna keraguan yang terus mengisi sampai sekarang berubah menjadi ketakutan dalam seketika.

“ .... Mungkin andalah yang paling rusak di kediaman Kuon, benar bukan?”

“Benar, kufikir ini karna aku telah hancur dan aku tak bisa digunakan, jadi aku dikirim kemari.”

“Dirasa itu ... ... Tidak, ayo hentikan .... Aku merasa ketakutan dihadapan tuan muda, kurasa, bahkan lebih dari kepala keluarga, jadi aku akan meninggalkan anda disini.”

*Kachan dan pintunya segera ditutup dan dikunci. Selagi mendengarkan banyak langkah kaki yang pergi, aku memikirkan masa depan.

Aku tak perlu mempelajari apapun, aku tak perlu lagi belajar. Tak ada lagi yang perlu kulakukan karna kewajibanku telah menghilang. Karna aku telah menjadi anak yang ‘mati’.

“ ... untuk sekarang, haruskah aku coba untuk tidur?”

Karna aku tidak akan melakukan apapun, aku memutuskan untuk tidur siang.

.... .... Apakah aku punya hobi?

Selagi tenggelam di ranjang, aku menutup mataku sambil mempertimbangkan hal tersebut.

Kesadaran di mimpiku berakhir, dan kesadaranku akan realita mulai terkumpul. Bersama akhir mimpiku, ingatanku memudar.

++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++
<< | Index | >>
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||