Selasa, 03 Oktober 2017

Sakura Chapter 2

Terima Kasih sudah datang...


Tl : Zimsakuzai
Source : Onichannyamete


(~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~

<= | INDEX | =>

~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~)


2 –  Hari-hari biasa


“Berdiriiiii. Membungkuk.”

Dengan perintah yang datang bersamaan dengan bel sekolah, kelas mulai bergerak.

“Sakuraaaa, Miharuuuu, ayo makan siang~”

“Mn, kita makan dimana hari ini?”

“Hari ini cuacanya bagus, jadi gimana kalau di atap atau lapangan?”

Undangan makan siang datang dari temanku, Tomoko.

Tiga garis yang disebutkan diatas secara urut adalah Tomoko, aku dan Miharu.

“Kemarin baru saja hujan, jadi aku tak mau dilapangan.”

“Lalu keatap tak masalah bukan?”

Aku menjawab pertanyaan Tomoko.

“Lalu di atap ya, huh? Ini sedah beberapa waktu kita mendapat cuaca bagus, jadi kalau kita tidak cepat kursinya bakal penuh.”

Sambil berucap, Miharu mengambil kotak makan siangnya.

“Roger.”

Setelah menjawab, aku mengambil bekal makan siangku dan mulai berjalan.

Tomoko dan Miharu adalah teman yang aku tahu sejak Sekolah Dasar.

Kami menjadi teman ketika tahun pertama sekolah menengah karna sama kelas, namun sejak saat itu kami sering jalan-jalan untuk main bareng. Diantara kelompok temanku, merekalah yang paling dekat.

“Sakura, Bekalmu sangat beragam seperti biasa ya? Aku akan mengambil kaarage-nya.”

“Hey, aku nanti bakal kekurangan lauk?”

Aku mencampuri selagi komplain pada Tomoko yang ingin mencuri kaarage dari bekalku. (Kuzai : Kaarage = Ayam Goreng, Aku ya sama ga bakal ikhlas kalau ayam goreng makan siangku diceromot, nice Sakura)

“Yummyy~ Masakanmu selalu enak ya?”

Dari pada dapat permintaan ma’af, yang kuterima malah penilaian masakanku.

“Karna jika aku ingin makan, kenapa aku tidak memakan makanan yang kusuka dengan rasa yang kusuka? Memasak sendiri adalah jalan tercepat mendapatkannya. Aku tak menikmati memasak; aku hanya menikmati makan masakan lezat.”

Sementara merasa sedikit senang karna masakanku dipuji, Aku membalasnya.

“Tak peduli seberapa aku suka makanan, waktu persiapannya itu lho, tahu kan~...? Bahkan jika aku suka makan, mustahil bagiku. Sejak kapan kau mulai memasak?”

Miharu berkomentar yang membuatku sedikit terkejut.

“Harusnya ketika aku umur 5 aku mulai ingin makan masakan enak? Kedua orang tuaku bekerja, jadi tak peduli apa aku akan berakhir makan masakan jadi. Kukira saat umur 8 lah aku mulai berfikir mengatasinya dengan membuatnya sendiri.”

Sementara memikirkan kembali pada hari-hari itu, aku membalas.

“Kau membangkitkan selera makan lezatmu pada umur semuda itu...? Kau bisa membuat banyak makanan penutup, bukan?”

“Hm, habisnya aku bisa membuatnya cocok dengan seleraku dari pada yang bisa dibeli di toko, dan yang paling penting itu jadi lebih murah. Ah~, hari ini aku memanggang kue untuk makanan penutupnya.

Selagi membalas pertanyaan Tomoko, aku mengambil tas kecil dari tas sekolah yang berada di kakiku.

“”Makasih traktirannya.””

Berucap bersamaan, keduanya siap mencomot ke kantong.

“Kalian bisa makan manisan setelah kalian makan bekal, paham?”

““Kami paham.””

Dengan begitu, keduanya jadi senyap dan mulai mengurus bekal masing-masing.

…*

“Manisan buatan Sakura lezat seperti biasa bukan?”

“Benar. Walaupun dia kecil, dia bagus dalam memasak, dan dia kuat, jadi dia akan jadi istri yang baik.”

“Aku membuat lebih dari yang kubutuhkan, jadi masih ada beberapa, tahu? Dan jangan panggil aku kecil.“

Selagi kami bertiga bersukaria selagi memakan manisan, kami menikmati teh yang kubawa bersama termos.

Teh juga hal yang kusuka.

Masakan lezat, dan minuman enak. Masakan Kelezatan adalah keadilan.

..*

Aaahhh, sungguh damai.


(~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~ (~`.`)~

<= | INDEX | =>

~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~) ~(‘.’~)